GARIS MELINTANG

Awan putih dan awan hitam terbang berseteru di angkasa. Langit biru yang manis terkadang berubah menjadi langit pahit gelap gulita. Meskipun matahari bersinar jauh lebih terang dari biasanya, terkadang tertutup oleh awan-awan gelap nan menakutkan. Deras arus sungai yang menghanyutkan berlian dan permata. Demikian pula, dunia masih berputar di sepanjang arus sirkuitnya. 

Merah 

Kuning

Hijau

Biru


Banyak sekali warna yang ada di dalam ciki anak perempuan itu. Warna yang cantik, warna yang membuat kelopak mataku ingin terbuka tanpa pernah tertutup sekalipun. 


Jingga

Ungu

Merah jambu


Entahlah, aku tidak ingin melepaskan pandanganku ke warna-warna itu.

" Mas, mau ? " Ucap adikku yang memiliki permen bulat warna-warni yang di dalamnya adalah sebuah cokelat.

Byurrrr.. lamunanku sirna begitu saja, dengan tawaran singkat oleh gadis kecil itu. Tanpa menjawab aku mengambil sebiji permen berwarna merah. Kujepit antara ibu jari dan jari telunjuk ku serta mengangkatnya seolah-olah menerawang dengan latar belakang langit yang sama sekali tidak menarik perhatian ku, permen jauh lebih berwarna dari pada alam semesta sekalipun.

Pikirku jajanan berwarna merah ini mempunyai citarasa buah stroberi, aku tertipu. Aku tidak merasakan sedikitpun rasa itu, Sengaja kukeluarkan si merah itu untuk melihatnya.

" Loh mau rupane abang kok luntur dadi jinggo yo? " ucap ku penuh tanda tanya

  Aku salah mengambil warna, hanya itu yang ada dipikiran ku, setelah ku rasakan kembali, aku tidak menemukan rasa buah jeruk didalamnya, Aku akan memastikannya lagi dengan cara melihat apa yang ada di mulutku sekarang

" Lah, piye toh " aku hanya melihat sebuah coklat tanpa warna merah maupun jingga.

Rasa penasaran ku tidak berakhir begitu saja, untung langit sudah tidak menurunkan air tangisannya lantas aku bergegas kesebuah gerai kecil yang menjual permen yang sama seperti adik kecil itu miliki. Aku menyusuri anak-anak tangga yang membuat lututku ingin diistirahatkan.

" Mbah, tuku permen " ucapku terpatah karna nafas yang tidak beraturan sambil menunjukan permen yang ku mau

" Permen mu sama koyo pelangi " sambil menunjuk sebuah pelangi yang baru saja tergambar di kanvas nya tuhan.

Bisa-bisanya aku tidak melihat pelangi cantik itu karna aku terlalu fokus sama permen warna-warni ini. Mbah menunjuk ke arah belakang ku.

"Pelangi ne malang " ucap Mbah 

" Malang " ucapku yang tiba-tiba saja tanpa tujuan apapun seperti halnya aku terhipnotis yang Mbah ucapkan

" Iyo malang karo mbujur " yang artinya melintang dan membujur 

Pelangi cantik itu melintang sempurna di kanvas semesta, takjub. 

" Mbah, diujung pelangi ono opo toh ? " 

Mbah tersenyum sambil mengajak ku keluar sambal melihat kali yang berwarna kecoklatan, arus kali yang deras, kereta dan jembatan.

" Pelangi iku ibarate jembatan yang melintang, menghubungkan kampung mu dengan kampung sebrang " 

Aku kembali melihat pelangi yang terukir di langit. Berarti pelangi mempunyai fungsi yang sama seperti jembatan itu, simpulku. Pelangi sudah terpecahkan, tapi tidak dengan permen ajaib itu. Aku kembali ke gerai Mbah untuk mengambil permen ajaib itu.

" Mbah permen ajaib ku neng ndi ? " 

" Permen ajaib opo to?" 

Tanpa pikir panjang aku menjelaskan hal-hal yang aku pertanyakan semuanya dengan Mbah, Beliau kembali tersenyum dan tertawa kecil. 

Bukan permen ajaib katanya, permen yang diberi warna mencolok hanya untuk menarik perhatian pembeli, merah buka berarti stroberi, jingga bukan berarti jeruk, hijau bukan berarti melon. Didalamnya sama, hanya rasa coklat tapi diluarnya yang menjadi pembeda antara satu dan lainnya.

“Regenboog snoep” dengan ucapan kecil Mbah Kembali masuk kedalam kedai. Awalnya aku tidak menghiraukan itu, langkah demi langkah ku terhenti oleh ucapan Mbah sebelum ia kembali masuk kedalam kedai itu. Regenboog snoep, aku masih mengingat kata itu dan bergegas kembali menjumpai Mbah dengan kaki yang tidak mampu lagi jika diajak naik dan turun anak tangga.

Napasku lagi-lagi tidak beraturan, segera ku memanggil Mbah di gerai itu, namun Mbah sudah terlelap dan menutup matanya. Bingung rasanya, aku yang ingin tahu apa maksud dari kata tersebut tapi aku juga tak ingin menjadi durhaka membangunkan orangtua yang sedang beristirahat.

Aku berbalik badan dengan muka ku yang terlanjur kusut karna tidak mendapatkan jawaban, baru saja aku melangkahkan kakiku keluar dari gerai itu aku dikagetkan dengan suara yang tak asing menurutku

“Ono opo toh le?” tanya Mbah 

Dengan muka terkejutku lagi-lagi aku membalikkan badanku ini kearah Mbah yang masih menutup matanya.

“Ngomong saja, aku merem bukan berarti aku turu”

Dengan nada yang ragu-ragu, aku menanyakan kembali apa arti dari kata yang terakhir Mbah ucapkan, terdengar asing sekali bagiku.

“Regenboog snoep” Mbah mengulangi kata itu

Aku menantap Mbah dengan penuh harap agar beliau menjawab pertanyaan ku ini, tetapi aku hanya disuruh mengamati pigura sebuah rumah bercat putih. Aku tidak paham maksud dari perintah Mbah yang hanya menyuruhkan memandangi pigura itu.

“Mbah..” panggilku

Beliau tidak membuka matanya namun tangan beliau hanya menunjuk letak pigura itu tanpa meleset sekalipun, aku menuruti perintah beliau utuk memandangi pigura satunya, fotonya sudah lecek dan menguning.

Aku membandingkan foto ini dengan foto satunya, keduanya terlihat sama. Rumah dan lokasi foto yang sama, yang menjadi pembeda adalah warna dan gaya rumah itu sendiri. Di pigura pertama terlihat seperti masa kolonial belanda, rumah besar dengan halaman yang luas seta genting rumahnya yang berbentuk segitiga kecoklatan. 

“Uwes ta ?” ucap Mbah yang lagi-lagi mengagetkannku 

Regenboog snoep, bahasa belanda yang artinya permen pelangi. Sudah terjawab pertanyaanku, tapi selalu saja pertanyaan baruku muncul begitu saja. Lantas apa maksud dari perintah Mbah untuk menatap pigura itu?

Mbah seperti sudah tahu bahwa aku akan menanyakan hal itu. Foto di pigura pertama itu adalah rumah peninggalan kolonial Belanda, rumah yang cantik bercat putih tanpa ada warna dan warni. Foto di pigura kedua adalah rumah kecil yang dulunya adalah rumah pribumi yang sudah lama menginjak kota yang sejuk ini.

Dulu itu adalah rumah seorang pribumi asli, namun sejak kedatangan Belanda rumah itu di hak milikkan menjadi kepemilikan orang-orang belanda dan orang orang Belanda menjadikan warga pribumi ini seorang kacung dirumahnya, seorang kacung yang dipekerjakan untuk melayani mereka.  

Seperti nya dunia emang tidak adil atau dunia sudah tidak berputar di sirkuit nya. Penjajahan yang kejam oleh negara kincir angin pasti akan membekas kepada seluruh pribumi. Sangat malang seorang pribumi terdahulu. 

Heran ketika Mbah mempunyai foto itu dan mengapa Mbah fasih sekali berbahasa Belanda.

"Panjenengan niki sinten Mbah?"

Mbah membuka matanya dan memandangi dua pigura itu

" Aku iki kacunge londo le.. ”




26 Oktober 2022


Selesai


Karya oleh: Giniung Pardita

Comments