Siap Mengembalikan Perekonomian dan Kesehatan Masyarakat Dengan Penyebaran Vaksin Secara Merata di Tengah Pandemi Covid 19

     Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama ditransmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya. Yang dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika Anda berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19. Anda juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.

     Akibat adanya Pandemi Covid-19 banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, menerapkan kebijakan pembatasan aktivitas sosial masyarakat. Kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi jumlah kasus positif Covid-19 yang hingga saat ini masih terus bertambah. Pemerintah pun sudah banayk mengeluarkan program untuk melakukan pemulihan ekonomi nasional. Salah satunya dengan memberikan bantuan seperti BLT, BPJS Ketenagakerjaan ada banyak pro dan kontra terhadap bantuan yang dibuat oleh Pemerintah.

    Kasus positif virus Corona atau Covid-19 di Indonesia pertama kali terdeteksi pada Senin (2/3). Pertama kali diumumkan oleh Presiden Joko Widodo. Sejak hari itu, jumlah kasus positif Corona semakin bertambah dari hari ke hari. Ada pasien yang meninggal dunia, banyak juga yang dinyatakan negatif dan akhirnya sembuh. Hingga Mei 2021, pandemi Covid-19 di Indonesia telah berlangsung lebih dari satu tahun. 

     Tren angka positivity rate Indonesia per Mei 2021 saat ini mencapai angka terendah selama pandemi COVID-19. Pada bulan Mei ini, tercatat angka minimal sebesar 8,5% dan maksimal sebesar 13,6% dengan angka rata-rata sebesar 11,3%. 

    Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyebut perkembangan Indonesia lebih baik dibandingkan India yang sedang krisis COVID-19. Meski sempat menyentuh angka tertinggi pada Januari 2021, angka positivity rate meningkat cukup tinggi mencapai 27,2%. 

    Indonesia mencoba belajar dari kondisi COVID-19 pada tahun lalu, yang berdampak hingga awal tahun ini," ia menyampaikan keterangan pers Perkembangan Penanganan COVID-19, di Graha BNPB, Selasa (11/5/2021) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden. 

     Melihat perbandingan data dengan India, positivity rate awalnya berkisar di angka 2 - 3% dan tertinggi mencapai 8% per September 2020. Namun perubahan drastis terjadi sejak April 2021 yang angkanya mencapai 14%, dan Mei 21,7%. Peningkatan ini dampak dari lonjakan kasus akhirakhir ini dengan penambahan kasus mencapai 400 ribu per hari. 

    Peningkatan yang terjadi di India disebabkan akibat kegiatan keagamaan dan kegiatan politik yang menimbulkan kerumunan massa. Dan dampaknya meningkatkan angka positivity rate . Dari yang semula di angka 3% menjadi 22% hanya dalam waktu kurang dari 2 bulan akibat abainya protokol kesehatan.

    Selama mewabahnya virus corona, perekonomian dan Kesehatan di Indonesia akan masih terancam seperti yang diketahui pada kuartal II tahun 2020 yang dilaporkan BPS pertumbuhan ekonomi minus 5,32% banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan, baik yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan oleh perusahaan dan lain sebagainya. 

     Akibat kebijakan tersebut, pada masa awal pandemi di kisaran bulan Maret, kegiatan ekonomi pun nyaris terhenti total. Banyak penduduk yang kemudian harus dirumahkan oleh pemberi kerja. Selain karena ada pembatasan jumlah pekerja yang bisa beraktivitas di kantor ataupun pabrik, hal itu juga terjadi karena permintaan atau konsumsi domestik mengalami penurunan. 

    Salah satu program yang menuai kontrovensi dan menimbulkan pro dan kontra didalamnya adalah Program Vaksinasi. Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia telah memulai program vaksinasi COVID-19 sejak pertengahan Januari lalu. Meski demikian, banyak kelompok yang menolak berpartisipasi dalam program ini sehingga menambah daftar panjang tantangan bagi program vaksin pemerintah yang diprediksi baru akan selesai 10 tahun ke depan. 

    Penolakan terhadap vaksinasi COVID-19 sebetulnya menunjukkan masih kuatnya fenomena anti-vaksin di Indonesia dan juga di dunia secara umum. Faktor yang melatarbelakangi biasanya berbeda-beda di setiap negara karena berkaitan dengan kondisi sosial budaya setempat seperti agama. Agama menjadi salah satu alasan penolakan vaksin di Indonesia, yang berpenduduk mayoritas Muslim. Salah satu alasan penolakan terhadap vaksin di Indonesia adalah kekhawatiran terhadap kehalalan dari kandungan vaksin tersebut.

    Menurut Kepala Badan POM Penny G Lukito sendiri menegaskan bahwa sesuai arahan presiden bahwa jaminan keselamatan dan kehati-hatian dalam pengadaan vaksin COVID-19 sangat diutamakan, mulai dari aspek mutu hingga efikasi vaksin. Peny menyatakan bahwa hasil Uji klinis vaksin COVID-19 di Bandung memberikan hasil yang menggembirakan. Proses selanjutnya adalah menunggu hasil uji interim tahap 3 untuk selanjutnya disandingkan dengan hasil Uji dari Negara lain yang juga melakukan uji klinis cinovac yaitu Turki, Chili, dan Brazil “Uji klinis kami lakukan dengan cermat dan mengutamakan kehati hatian, dalam rangka pemberian EUA” ungkap Penny. Wakil Menteri 1 BUMN Pahala Mansury menyatakan bahwa BUMN bahu membahu bersama pemerintah untuk bergerak cepat dalam menghadirkan vaksin di Indonesia. 

    Adapun dampak dari vaksinasi di antaranya seperti sejauh mana cakupan vaksin, efektivitas suntikan dalam mencegah penyakit dan infeksi, serta laju penularan virus corona, SARS-CoV-2. Namun setelah dilakukan penyuntikan vaksin COVID-19, Presiden juga turut mengingatkan agar seluruh masyarakat yang nantinya akan divaksinasi agar tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan. Dalam hal ini dikatakan dapat menyelesaikna permasalahan sedikit banyaknya akan membantu memutus laju penularan karna tujuan vaksinasi ini dapat membantu mengakhiri pandemi namun membutuhkan waktu dan tidak bisa dapat hilang seketika sehingga walaupun kita sudah divaksin kita tetap harus menaati Protokol Kesehatan

Comments