EUNOIA

Barangkali benar, salah satu tujuan manusia diciptakan adalah untuk menjadi tempat sampah. Tapi mereka percaya Tuhan, percaya akan keajaiban meski dunia balik menyerbu mereka. Mereka beranggapan bahwa masih ada kesempatan hidup yang lebih baik lagi.

Gubuk di pinggiran kota yang menjadi saksi bisu kehidupan, membuat kisah di antara orang yang terkasih. Sekali pun duduk beralaskan tanah dan berdinding rapuh, yang bisa saja roboh kapan pun diterpa badai angin dan badai kehidupan. Di sini mereka masih bisa tertawa dan bercanda, dan beranggapan bahwa bagusnya tempat tinggal tidak menjamin kebahagiaan dan di sinilah mereka, tinggal di antara pencakar langit.

Seorang pria yang ditinggal cerai istrinya, hidup dengan seorang putri cantik dan baik hati, yang masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Dunia sangat keras dan kejam membuat sang istri sekaligus ibu anak satu itu harus pergi meninggalkan mereka, serta memilih hidup yang lebih baik lagi bersama pria lain, yang juga memiliki seorang putra. Sementara pria yang ditinggalkan harus terpaksa mengikhlaskan kepergian wanita yang dicintainya, dan membesarkan sang buah hati mereka dengan kesendirian.

Sudah hampir seminggu lamanya dapur sempit mereka tidak berasap. Kuali dan tungku pun terbengkalai tidak tersentuh selama itu, pria dan anaknya ini hanya makan hasil memungut dari sampah restoran atau tempat makan yang berada di sekitaran kota. Walaupun seperti itu, mereka sangat bersyukur karena masih bisa makan hari ini. Engga tau kalau besok pikirnya.

Malam itu hujan deras dengan angin yang bertiup halus menembus dinding gubuk mereka, hanya tersisa satu lilin sebagai penerangan sekaligus penghangat bagi tubuh. Demi menghemat pengeluaran, pria itu mengumpulkan lagi kerak-kerak sisa lilin kedalam kaleng bekas. Untuk membeli makanan saja mereka tidak mampu apalagi harus membayar listrik pikirnya.

“Ayah, besok malam kita tidak punya lilin lagi ya? Semalam sisa satu dan kita sudah habis memakainya” Ucap gadis mungil itu kepada sang ayah. “Iya Nak, insyaAllah nanti kalau ada uang ayah beli ya untuk malam ini, kamu engga usah pikirin, fokus ke sekolah saja“ Ucap sang ayah lirih menahan pilu. Si anak mengiyakan perkataan sang ayah tercinta. Ayahku hebat dia adalah pahlawanku ujarnya di dalam hati. Bagaimana caranya agar pria itu bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik demi kesejahteraan keluarga, sudah mencari pekerjaan dari tempat satu ke tempat lain pun tetapi tidak ada yang menerima orang yang tidak mempunyai skill apa pun seperti pria itu. Sekeping logam pun sekarang ia tidak punya, ah sudahlah jalani saja pikirnya, hari itu ia mencoba mengamen di pinggir jalan kota dengan sesaknya debu bercampur asap kendaraan. Dengan seribu pesaing pengamen dan razia dari Satpol PP ia berhenti mengamen dan pulang dengan tangan kosong, tidak satu pun hasil yang ia bawa di tangannya hari ini.

Makanan yang biasa ia cari di restoran atau tempat makan yang dianggap sebagai harta karun keluarganya, hari ini tutup tanpa alasan yang jelas. Pulang dengan sekotak gundah di hatinya. Tidak mengapa jika dirinya sendiri tidak makan tapi tidak untuk sang buah hatinya yang sedang membutuhkan gizi di masa pertumbuhan. Lagi-lagi ia merasa gagal menjadi orangtua. Secercah harapan hilang begitu saja.

Setibanya di rumah, dia disambut pelukan hangat dari sang putrinya. Anaknya mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan semua tugas rumahnya hari ini, agar tidak mengapa jika tidak ada penerangan di waktu malam nanti. Dengan mata yang berkaca-kaca, lelaki itu juga mengatakan kepada putrinya jika tidak ada makanan yang bisa mereka makan untuk malam ini. Ayah, tidak mengapa. Aku anak yang kuat. Tidak makan semalam saja tidak akan masalah bagiku. Lagian tadi pagi di sekolah khusus anak jalanan, kak Fatih memberikan kami makanan yang banyak.” Si anak berkata sambil memeluk ayahnya yang ringkih itu. Pria itu tak kuasa menahan haru, dia tidak menyangka jika kata kata yang menguatkannya itu keluar dari mulut seorang bocah sepuluh tahun, yang bahkan dengan perut kosong sekalipun ia tetap membesarkan hati ayahnya. Mereka saling memeluk dengan erat, satusatunya yang tersisa bagi pria itu adalah seorang putri yang tetap berada di sisinya, ia akan sanggup menghancurkan kerasnya batu karang di dalam kehidupannya itu.

Malam kelam yang dilaluinya tanpa penerangan. Gelap, suram dan tak bersahabat. Langit juga tidak mendukung mereka malam itu. Awan hitam terus membendung cahaya bulan. Suasana dingin tanpa penghangat bagi tubuh mereka. Sang putri tidur di pelukan ayahnya, seolah tidak peduli dengan keadaaan yang ada digubuk kecil ini.

Hari pun kian larut, tapi sepertinya mata pria itu enggan terpejam. Ia masih memikirkan seribu cara untuk menghasilkan uang yang halal besok. Tidak peduli apapun yang harus ia lakukan, yang pasti ia harus membeli sebatang lilin dan mendapatkan makanan demi sang putri. Ia memandang wajah cantik putrinya yang tertidur lelap didekapanya. Berharap suatu hari nanti ia dapat memberikan kehidupan yang layak bagi si buah hati. Malam berganti pagi, putrinya sudah berangkat ke sekolah khusus anak jalanan dan pria itu memutuskan untuk keluar rumah. Berharap kali ini berbeda dengan hari kemarin. Semoga hari ini adalah hari beruntung bagi mereka. Hari ini begitu terang, dengan sengatan matahari yang terik, langsung menembus kulitnya yang keriput dimakan usia. Ia mengamen di pinggiran jalan utama, tempat yang berbeda dari yang kemarin. Saat lampu merah, tiba-tiba jendela kaca dari sebuah mobil mewah berwarna hitam terbuka sedikit dan orang yang berada di dalam mobil itu memberikan sejumlah uang kepada si pria tadi. Pria itu sangat senang menerima penghasilan pertamanya di pagi yang cerah ini. “Terimakasih, Pak” ujar pria paruh baya itu. Belum sempat melihat orang dermawan yang telah memberinya rezeki itu kaca mobil telah balik tertutup lagi.

Seharian sudah ia menghibur orang orang yang sebenarnya tidak perlu dihibur, keringat bercucuran dari pori pori wajahnya. Sepertinya malaikat pemberi rezeki sedang berada didekatnya. Ia telah mengumpulkan logam yang banyak dan beberapa duit kertas yang diberikan lelaki di mobil mewah tadi. Hatinya gembira dan ia tidak sabar membawa kabar bahagia ini ke anaknya. Kali ini pria tersebut membawa sebatang lilin dan sebungkus nasi yang ia beli diwarung pinggiran jalan. Namun langkahnya dihentikan oleh seseorang dengan pakaian compang-camping dan membawa tongkat, tidak terawat. Sepertinya tidak mempunyai tempat tinggal. “Tolong pak, saya belum makan berhari-hari, perut saya sakit sekali ”ujar pengemis bertongkat itu. Pria itu termenung sejenak, dengan memandang pengemis bertongkat, dan ia merasa kasihan kepadanya, lalu ia memberikan nasi yang sudah dibelinya tadi. Tidak tahu apa yang dia pikirkan padahal ia dan anaknya sendiri memerlukan nasi itu.

Tetapi didalam hatinya ia beryukur karena masih punya tempat tinggal sekalipun gubuk kecil dan memiliki seorang putri yang selalu berada disisinnya. Sehingga dia tidak perlu hidup terlantar seperti pengemis bertongkat ini. Kemudian pria itu sampai dirumah, dan lagi-lagi disambut dengan pelukan hangat anaknya.

“Ayah, lihat aku menyisihkan makan siangku di sekolah untuk kubawa pulang, aku tahu ayah pasti lapar kan?” si anak memberikan kotak nasi itu kepada ayahnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa dan pria itu langsung mengajak anaknya untuk makan bersama. Sebuah hari yang sangat indah hari ini, bisa makan bersama sang anak tercinta. Malam kembali diterangi dengan sebatang lilin yang menyala disudut ruangan. Terlihat sang anak sedang belajar dengan giat. Dan tiba-tiba anak itu menyampaikan sesuatu kepada ayahnya “ayah, saat perjalanan pulang sekolah tadi, ada pameran baca buku gratis” ucap sang anak. “Oh ya? Terus gimana?” sang ayah bertanya. ”tadi aku membaca satu buku, dengan judul yang sangat menarik perhatianku yah” sang ayah bertanya lagi kepada anaknya “ judul buku apa yang menarik perhatianmu ?” “eunoia yah” sang ayah kebingungan dan kembali lagi bertanya kepada si anak apa arti yang baru saja ia bicarakan.

Eunoia adalah kata serapan dari bahasa Yunani yang memiliki arti sendiri yaitu pemikiran yang baik, pikiran yang baik serta tujuan dan niat yang baik. Agar membuahkan hasil yang baik pula. Itu lah yang dijelaskan sang anak kepada ayahnya. “Berarti nak, kita harus berbuat baik kesemua orang, jika ingin menghasilkan sesuatu yang baik pula“ ucap ayah menasehati anaknya.

Pagi pun tiba, mereka akan menjalankan rutinitas seperti biasanya, namun baru saja ada seseorang yang mengetuk pintu gubuk mereka. Ini belum pernah terjadi sebelumnya, apa ada orang yang ingin bertamu di gubuk mereka? dengan segera, ia membuka pintu rumah dan alangkah terkejutnya ada sosok lelaki tampan mengenakan jas dengan rambut yang disisir rapi. Ayah dari seorang putri itu terpaku sejenak.

“Maaf pak mungkin ini tidak seberapa, tapi pergunakan ini dengan bijak ya pak untuk membiayai kehidupan kalian sehari-hari dan ini ada beberapa buah-buahan untuk anak bapak. Dia membutuhkan gizi untuk pertumbuhannya” ucap lelaki berjas tadi menatap sang pria lusuh sambil memberikan amplop dan keranjang buah segar. Pria lusuh itu kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Mereka juga akan memasang arus listrik kerumah bapak” lelaki itu melanjutkan pembicaraan dengan menunjuk orang-orang yang berseragam tadi dibelakangnya. “Jadi bapak tidak perlu khawatir lagi merasakan gelapnya malam” lanjut lelaki itu. Terimakasih banyak atas semuanya, semoga tuhan membalas kebaikanmu, tapi kau siapa ? apa kita pernah berjumpa sebelumnya ?” tanya pria tua itu. “Anggap saja aku adalah keajaiban yang sudah lama kau tunggu- tunggu” Lelaki itu langsung menangis haru, siapapun gerangan lelaki ini sudah membuat perubahan besar di kehidupan keluarga ku. Kini keluarga ku menjadi lebih baik.

Lelaki rapi itu melangkah masuk ke dalam mobil mewah miliknya dan sesekali air mata jatuh dari pipinya yang mulus. “Mengapa bapak harus menghabiskan uang untuk orang yang tidak bapak kenal ?” tanya ajudannya. “Kata siapa aku tidak mengenalnya ? aku sering melihat pria itu memungut nasi di restoranku” balas sang lelaki tampan itu.

“Ya baiklah, tapi bapak juga tidak perlu menyamar jadi seorang pengemis menyedihkan dan meminta nasinya bukan ?” ucap ajudannya kembali. “Mungkin itu tidak perlu, tapi aku hanya ingin melihat orang seperti apa dia ? maukah dia memberikan nasi yang sudah didapatnya, dengan susah payah kepada pengemis lain yang ia temukan dijalan ?Oh iya satu lagi, besok panggil lelaki itu katakan kepadanya ia diterima bekerja di restoranku, tapi dia jangan sampai tahu jika aku adalah pemilikr estoran tersebut, paham ?” pinta orang dermawan tadi.

“Baik pak“ jawab ajudannya. Lalu, mereka pergi beranjak dari tempat kumuh itu dan dijalan, lelaki itu berkata di dalam hatinya ‘aku juga tidak akan pernah mengatakan bahwa aku adalah anak dari seorang duda yang menikahi istrinya’.




Karya oleh: Giniung Pardita 


Comments