Fenomena Culture Shock tanpa kita sadari sering terjadi di lingkungan sekitar kita di mana berkaitan dengan kemampuan seseorang yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Biasanya Culture Shock ini lebih akrab dikenal dengan sebutan gegar budaya, kondisi seseorang yang mengalami problem pada lingkungannya sehingga berpengaruh secara fisik, emosional, bahkan dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman sewaktu berpindah dan tinggal pada lingkungan baru terlebih lagi memiliki kondisi budaya yang tidak sama. Geger budaya yang dirasakan generasi millenial saat ini sebagian besar adalah mahasiswa perantauan. Sulitnya berkomunikasi yang dilatarbelakangi perbedaan bahasa menuntut mereka untuk dapat mempelajari serta menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya yang baru. Karena tidak dapat dipungkiri dalam lingkungan tersebut terdapat tuntutan-tuntuttan untuk memahami perbedaan budaya yang berlaku. Hal inilah yang menyebabkan geger budaya bagi mahasiswa perantau, sehingga berpotensi mengakibatkan masalah yang mengganggu psikis mereka. Permasalahan keberagaman budaya tersebut tidak dapat terelakan karena Indonesia sendiri adalah negara kesatuan terdiri atas beraneka ragam budaya, adat istiadat, bahasa daerah, suku, ras, agama sehingga memiliki kondisi multikultural yang kompleks. Kondisi ini sebenarnya dapat memberikan peluang terjadinya kemajuan tetapi juga dapat menimbulkan permasalahan seperti hal nya adalah Culture Shock. Jika memahami makna Keindonesiaan yang dikemukakan oleh Tjokroaminoto bahwa keindonesiaan dapat diartikan sebagai akumulasi nilai-nilai toleransi dan saling menghargai antar sesama serta menjujung tinggi kebhinekaan. Keindonesiaan erat kaitannya dengan fenomena Culture Shock, jika seseorang mampu menanamkan nilai keindonesiaan pada dirinya yaitu sikap menghargai dan memahami tentang keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Maka, pastinya tidak ada lagi yang namanya penyakit Culture Shock ini. Karena sikap menghargai inilah yang menjadi tonggak generasi muda untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, sangat penting rasanya untuk menanamkan nilai keindonesiaan pada generasi muda saat ini, namun dibalik itu nilai tersebut sudah mulai hilang lantaran derasnya arus globalisasi yang membuat budaya luar dengan mudahnya masuk. Untuk itu perlu adanya Reaktualisasi Nilai Keindonesiaan, reaktualisasi ini bertujuan untuk memperbaharuhi serta menunjukkan bahwa nilai-nilai keindonesiaan tersebut tidak stagnan serta dapat tetap terjaga dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Berbica mengenai reaktualisasi, reaktualisasi sendiri berasal dari kata aktualisasi yaitu suatu bentuk kegiatan melakukan realisasi antara pemahaman akan nilai dan norma dengan tindakan dan perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Reaktualisasi kali ini membahas tentang reaktualisasi yang terdapat pada nilai keindonesiaan. Adapun nilai-nilai keindonesiaan itu adalah nilai-nilai luhur universal dan kosmopolitan bangsa Indonesia. Nilai ini tentu didasari oleh agama dan budaya, sehingga menjadi peranan yang sangat penting dalam membangun persatuan. Persatuan yang dimaksud ialah persatuan dalam menumbuhkan kemantapan diri sebagai bangsa. Oleh karena itu, pertumbuhan kemantapan harus berjalan sejajar dengan pertumbuhan nilai-nilai keindonesiaan itu sendiri. Kemudian kemantapan itu berimpilkasi kepada kebebasan dari rasa takut terhadap pluralise maupun rasa cemas dari lingkungan baru atau kita kenal dengan istilah Culture Shock. Secara sederhana Kalervo Oberg mendefinisikan Culture Shock sebagai penyakit kecemasan yang dirasakan oleh seseorang untuk bisa menyesuaikan diri terhadap tempat tinggal yang baru. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Marshellena dkk tentang fenomena Culture Shock, penyebab yang melatarbelakangi terjadinya Culture Shock berasal dari internal dan eksternal individu. Kemampuan untuk menerima lingkungan yang baru sangat dikendali oleh internalisasi setiap individu. Biasanya penyebab ini terjadi dalam diri (inter) seseorang, seperti sulitnya kemampuan berkomunikasi, pengalaman dan pemahaman dalam lintas budaya sehingga menyebabkan timbulnya sikap intoleransi yang tinggi. Sedangkan penyebab ekternal, seseorang sering merasakan ketidaknyamanan karena perbedaan bahasa, adat istiadat dan agama yang sulit membaur sehingga cenderung mengalami kekagetan budaya. Banyak dampak yang di timbulkan adanya penyakit Culture Shock ini, salah satunya paham etnosentris yang memandang budaya asal adalah budaya yang paling baik dan memandang rendah budaya tuan rumah di tempat asing. Untuk itu reaktualisasi nilai keindonesiaan menjadi hal yang sangat penting bagi seseorang untuk mengamalkan nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai keindonesiaan yang perlu diaktualisasikan kali ini adalah menumbuhkan kembali rasa nasionalisme generasi muda. Nasionalisme merupakan wujud rasa cinta tanah air dan bangsa atas dasar kesadaran dan rasa tangggung jawab sebagai warga negara. Nasionalime sangat penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara karena merupakan wujud kecintaan dan kehormatan kepada bangsa sendiri. Jiwa nasionalisme yang tumbuh dalam diri individu akan menjadi landasan untuk mencintai tanah air. Perwujudan dari rasa cinta tersebut yaitu berupa perbuatan-perbuatan baik yang bertujuan untuk menjaga dan membangun nama baik bangsa Indonesia. Dengan memegang teguh semangat nasionalisme yang tinggi, maka seseorang akan lebih mudah untuk menghargai perbedaan budaya yang ada. Sikap menghargai sesama umat manusia tanpa membedakan suku, ras, budaya, maupun agama, baik secara individu ataupun kelompok akan terciptanya suasana toleransi yang dapat memberikan keuntungan bahwa sikap toleransi dan saling menghormati secara substansial antar budaya dapat menghasilkan interaksi sosial yang baik, terwujudnya kehidupan yang aman, damai, dan harmonis.
Maka, dengan menanamkan nilai keindonesian yang salah satunya adalah menumbuhkan semangat nasionalisme. Di mana dengan semangat nasionalisme akan terbentuk sikap toleransi individu untuk menghargai keberagaman. Sehingga apabila seseorang sudah memahami dan mengamalkan nilai keindonesiaan tersebut, akan lebih mudah seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru di sekitarnya. Hal ini diyakini bahwa rasa cinta tanah air yang sudah tertanam dalam diri dan jiwa seseorang akan membuat ia berpikir dan memahami kondisi budaya yang berbeda apabila sewaktu-waktu tidak sesuai dengan keinginan dirinya.
Tentang Penulis
Novang Cahya Sri Kartini sering disapa Novang, gadis yang berasal dari tanah melayu Kabupaten Lingga tepatnya di Pulau Senayang. Saat ini sedang menempuh perkuliahan di Universitas Maritim Raja Ali Haji Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Sangat menyukai dunia bisnis dan suka mencoba hal-hal baru. Jejaknya bisa dilacak di akun intagram; @srikartiini.
Comments
Post a Comment