Program Makan Bergizi Gratis (MBG) salah satu bentuk kebijakan pemerintah Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming yang telah dijanjikan sedari awal masa kampanye calon presiden dan wakil presiden tahun 2024 lalu.
Terhitung 28 Januari 2025 telah menginjak 100 hari masa kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming yang secara tidak langsung telah berjalan pula program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijanjikan. Adapun penerima manfaat dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) diklasifikasikan dalam 4 kategori yaitu peserta didik dari tingkat PAUD hingga SMA, bayi di bawah lima tahun (Balita), Ibu hamil, dan ibu menyusui. Prabowo Subianto optimis menargetkan sebanyak 15 juta anak akan menjadi penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis pada bulan September 2025 mendatang.
Untuk saat ini dana yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis sebesar 71 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024. Anggaran tersebut diduga hanya mencukupi hingga Juni 2025 yang mana pada pembagian makan bergizi gratis masih tidak kunjung merata ke seluruh anak sekolah di Indonesia. Maka dari itu Prabowo memutuskan untuk menambah anggaran program Makan Bergizi Gratis menjadi 171 triliun.
Di tengah dinamika politik yang terus bersinggungan antara pro dan kontra terhadap optimisme program MBG, Prabowo Subianto mengeluarkan kebijakan yang cukup kontroversial mengenai efisiensi anggaran. Adapun kebijakan tersebut tertuang pada Inpres Nomor 1 Tahun 2025. Adapun dengan dikeluarkannya kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi belanja terhadap kegiatan yang bersifat seremonial pada setiap lembaga yang ada di pusat maupun di daerah. Hal ini justru menuai kritikan tajam dari masyarakat terlebih di kalangan mahasiswa. Sebagian besar reaksi masyarakat dipicu oleh dugaan dampak efisiensi terhadap biaya pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Semenjak dikeluarkannya Inpres Nomor 1 Tahun 2025 pada tanggal 22 Januari 2025, banyak gejolak yang timbul di tengah masyarakat.
Mahasiswa Turun ke jalan menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan yang ada. Adanya kekhawatiran terhadap kenaikan Uang Kuliah Tunggal sebesar 50%-100%. Tidak hanya aksi-aksi yang ada di jalan, gejolak sosial juga meledak di dunia maya, banyak tagar yang diramaikan untuk menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah. Masyarakat berspekulasi bahwa program MBG menjadi salah satu hal yang memicu dikeluarkannya kebijakan efisiensi anggaran. Di sisi lain, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengklaim bahwa selain untuk meningkatkan kualitas pendidikan, program MBG dinilai potensial untuk mendongkrak perekonomian Indonesia karena melibatkan produsen bahan baku di masyarakat dalam prosesnya.
Lalu, bagaimanakah kelanjutan dari Program Makan Bergizi Gratis ini? Apakah akan di lanjutkan atau di hentikan?
Widia Novia Putri &Agatha Cristy Siregar_ LITBANG



Comments
Post a Comment