Apa itu kebijakan tarif resiprokal?
Kebijakan tarif resiprokal atau rencana tarif balas dendam merupakan suatu kebijakan yang diberlakukan oleh suatu negara untuk membalas tarif impor yang dikenakan negara lain terhadap barang ekspornya. Secara sederhana maksudnya, jika suatu barang dari negara A dikenai pajak tinggi oleh negara B, maka negara A juga akan membalasnya dengan mengenakan pajak tinggi untuk barang dari negara B. Pada awal tahun 2025, kini Persaingan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina kembali memanas. Hal ini dipicu oleh kebijakan tarif balas dendam yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump. Donald Trump mengambil langkah keras terhadap China dengan menerapkan tarif resiprokal yang sebelumnya dikenakan oleh China. Perang tarif ini sebenarnya sudah dimulai sejak masa jabatan pertama Donald Trump pada tahun 2018. Namun, pada awal tahun 2025, situasinya kembali memanas bahkan dengan skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Langkah ini bukan hanya mengguncang hubungan bilateral kedua negara, tapi juga memicu gejolak ekonomi global. Tarif resiprokal ini dikenakan ke lebih dari 180 negara.
Awal Mula Ketegangan - Februari 2025:
Pada 1 Februari 2025, Presiden AS Donald Trump menetapkan tarif baru sebesar 10% untuk berbagai barang impor dari China. Kebijakan ini mulai berlaku tiga hari kemudian, pada 4 Februari. Tindakan ini langsung mendapat tanggapan dari pemerintah China. Lalu, 10 Februari China menetapkan tarif balasan sebesar 15% untuk produk energi dan alat pertanian dari AS. Selain itu, tarif tambahan sebesar 10% juga diberlakukan untuk impor minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil berukuran besar.
Ketegangan Meningkat - Maret 2025:
Pada bulan Maret, perang dagang semakin memanas. Amerika Serikat menaikkan tarifnya menjadi 20% terhadap produk asal China. Kemudian, pada 3 Maret China mengenakan tarif 15% pada produk pertanian dari AS, seperti ayam, gandum, jagung, dan kapas. Selanjutnya 10 Maret, tarif tambahan sebesar 10% diberlakukan pada kedelai, daging babi, buah-buahan, dan produk susu asal AS. Hal ini semakin memperkeruh hubungan dagang antara kedua negara yang sebelumnya telah tegang.
Puncak Ketegangan - April 2025:
Pada bulan April, konflik perdagangan mencapai puncaknya. Tepatnya 2 April, AS kembali menaikkan tarif menjadi 34% dan menuduh China melakukan hambatan perdagangan non-tarif. Dengan kenaikan ini, tarif total AS terhadap produk China mencapai 54%. Kemudian, pada 4 April China membalas dengan tarif tambahan sebesar 34%, yang mulai berlaku pada 10 April. Berikutnya, 8 April Presiden Trump mengancam akan menaikkan tarif menjadi 50% jika China tidak mencabut tindakan balasannya. Hal ini membuat total tarif efektif atas produk China mencapai 104%. Lalu, 9 April China kembali memberikan tarif tambahan ke produk impor AS menjadi 84% dan Trump secara mengejutkan mengumumkan penundaan sementara selama 90 hari atas tarif tinggi, kecuali untuk China yang justru dinaikkan menjadi 125%. Setelah itu, 11 April Gedung Putih mengumumkan bahwa tarif AS terhadap produk China kini mencapai 145%. China kembali merespons dengan menaikkan tarif mereka menjadi 125%, yang mulai diberlakukan pada 12 April.
Tarif impor lebih besar ke negara adidaya itu akan jadi guncangan besar untuk aktivitas perdagangan banyak negara dan tidak terkecuali Indonesia. Setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif impor, bursa saham di seluruh dunia langsung melemah. Nilai tukar mata uang di berbagai negara pun ikutan melemah. Banyak orang yang menyangka bahwa kebijakan tarif Trump merupakan awal mula dari potensi krisis ekonomi global. Terdapat banyak sekali dampak tarif balas dendam ini terhadap kondisi perekonomian, walaupun belum berlaku tetap saja akan memberikan dampak yang signifikan jika nantinya diterapkan. Daya saing produk-produk yang diimpor ke Amerika akan turun. Karena, harga barangnya akan jadi lebih mahal, kemungkinan lebih mahal dari barang yang diproduksi Amerika sendiri. Akibatnya permintaan produk Indonesia dari Amerika khususnya tekstil, alas kaki sampai furniture akan diperkirakan melemah, padahal komoditas-komoditas itulah paling banyak diekspor ke negeri Paman Sam. Dampak selanjutnya juga dirasakan oleh nilai tukar rupiah yang anjlok. Jika dilihat pada data Bank Indonesia, kurs rupiah bahkan sudah anjlok ke level Rp. 16.900 Per-dolarnya, hal ini menjadi terendah di sepanjang sejarah Indonesia bahkan mengalahkan zaman krisis moneter tahun 1998. Sehingga salah satu dampaknya harga barang akan naik, bunga KPR akan jadi lebih mahal.
Hampir seluruh kepala negara kecewa dengan keputusan Trump untuk menerapkan kebijakan tarif balas dendam. Tapi respon yang diambil tiap negara juga variatif, contohnya Australia memilih untuk mengikuti saja kebijakan tersebut, karena Australia menilai kebijakan ini dinilai akan merugikan Amerika sendiri. Lalu, Prancis memerintahkan perusahaan-perusahaan milik nya untuk cabut dari Amerika. Selanjutnya, China yang memilih untuk memberikan tarif balesan hingga 84% untuk produk dari Amerika. Tetapi, tidak sedikit juga negara-negara yang memilih untuk negosiasi pada Trump. Salah satunya pemerintah Indonesia. Presiden Prabowo mengatakan bahwa kebijakan Trump akan memberikan dampak yang berat ke sejumlah sektor industri di Indonesia. Oleh karena itu, Presiden Prabowo mengutus Menko Perekonomian yakni Erlangga, Menteri Keuangan yakni Sri Mulyani dan Menteri Luar Negeri yakni Sugiono untuk melakukan negosiasi pada Trump.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya menyatakan bahwa tarif impor tinggi yang kemungkinan bakal diterapkan Trump saat menjabat sebagai presiden AS tidak hanya akan berdampak terhadap China, tetapi juga negara-negara ASEAN. Ia mengatakan pemerintah akan mengantisipasi kebijakan Trump tersebut.
Timbul pertanyaan besar apakah indonesia mampu menjaga keseimbangan diplomatik antara dua kekuatan besar ini tanpa harus memilih pihak?
Dan lebih penting lagi, apakah cukup kuat kesiapan industri untuk mengambil alih peluang yang ditinggalkan oleh China?.
Di tengah ketegangan ini, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan ekspor dan menarik investasi asing yang mencari alternatif dari China. Namun, bergabungnya Indonesia dengan BRICS pada awal 2025 menimbulkan kekhawatiran akan potensi terkena dampak dari kebijakan proteksionisme AS terhadap negara-negara BRICS.
Pemerintahan Trump tidak hanya mengandalkan tarif tinggi, namun juga berupaya mengisolasi China secara ekonomi dengan mendorong lebih dari 70 negara untuk tidak menjadi perantara bagi produk-produk China yang ingin menghindari tarif AS. Selain persoalan ekonomi, isu-isu seperti keamanan nasional, penggunaan data oleh perusahaan teknologi China, penyebaran disinformasi, hingga pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uyghur di Xinjiang turut memanaskan hubungan kedua negara. Dikutip dari CNN melaporkan bahwa perang perdagangan antara Amerika dan China telah mencapai tingkat keseriusan yang sulit untuk diatasi dan berpotensi menimbulkan perlambatan ekonomi global atau bahkan resesi. Dampak lain yang dirasakan dari perang dagang ini melambatnya pertumbuhan ekonomi, terutama akibat gangguan rantai pasok dan lonjakan biaya produksi. Tarif yang dikenakan akan lebih membebani perusahaan dan konsumen Amerika Serikat.
Ketegangan yang terjadi antara China dan Amerika Serikat akan berpengaruh pada pasar keuangan domestik. Hal tersebut terlihat pada besarnya dana asing yang keluar dari pasar saham indonesia beberapa kurun waktu belakang yang mana investor cenderung mengalokasikan dananya ke tempat yang lebih aman atau save have asset. Potensi ekspor Indonesia ke China dikhawatirkan akan mengalami penurunan karena permintaan yang juga turut menurun. Perang dagang Antara Amerika dan China merupakan masalah yang serius dan menjadi tantangan besar ekonomi global, tak terkecuali Indonesia. Perlunya mengambil langkah kebijakan yang adaptif serta strategi untuk meminimalkan dampak negatif dan memanfaatkan peluang yang ada.
Sumber:
https://www.antaranews.com/berita/4496221/ekonom-indonesia-bisa-ambil-peluang-dari-perang-dagang-as-china
https://ekonomi.republika.co.id/berita/spr83e490/indonesia-gabung-brics-ekonom-ingatkan-hatihati-terseret-perang-dagang-aschina
https://www.cnbcindonesia.com/research/20250411151916-128-625275/perang-dagang-china-vs-as-makin-panas-seberapa-buruk-dampak-ke-ri
https://www.cnbcindonesia.com/news/20250414041556-4-625638/murka-dengan-tarif-trump-xi-jinping-perintahkan-china-mode-perang
https://tirto.id/sejarah-perang-dagang-amerika-china-penyebab-dampak-efKX
https://www.bbc.com/indonesia/articles/cgqvvdzjv90o.amp
https://www.cnbcindonesia.com/research/20250410112037-128-624835/lengkap-ini-kronologi-kisruh-perang-tarif-trump-gonta-ganti-terus
https://radartv.disway.id/read/23530/kronologi-perang-dagang-ascina-tarif-impor-saling-naik-hingga-capai-145-persen
Mely Nur Ratman & Ardita Wahyu Hidayah _ LITBANG



Comments
Post a Comment