UKM Research and Dedication FISIP UMRAH kembali menghadirkan workshop pelatihan esai secara online via Zoom Meeting yang mengundang seluruh mahasiswa/i di berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Kegiatan ini merupakan bentuk penguatan yang didukung oleh perspektif mahasiswa yang mengedepankan gagasan konstruktif demi membangun bangsa. Pemaparan workshop pelatihan esai ini menghadirkan narasumber yang luar biasa, yakni Bapak Azhari Setiawan, S.IP., M.Si. Beliau merupakan salah satu dosen Program Studi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Maritim Raja Ali Haji, yang kiprahnya sebagai akademisi muda berfokus pada riset kepenulisan.
Workshop ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bentuk nyata dari upaya membumikan semangat literasi ilmiah di kalangan mahasiswa. Di tengah derasnya arus informasi dan tantangan global yang kian kompleks, kemampuan menulis dengan dasar ilmiah menjadi kebutuhan mendesak. Oleh karena itu, UKM Research and Dedication FISIP UMRAH menyadari pentingnya membekali mahasiswa dengan teknik serta strategi menulis esai yang tidak hanya informatif, tetapi juga berdampak luas bagi masyarakat.
Dalam kegiatan ini, peserta diajak memahami fondasi penulisan ilmiah populer yang dikemas melalui bentuk esai, mulai dari memahami bagaimana esai berdampak, apa itu esai, komponen atau struktur penting yang ada dalam esai, bagaimana mengorganisasikan gagasan yang dimiliki, kesalahan-kesalahan umum pada esai, bahkan peserta tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga langsung diajak menelusuri struktur esai dari contoh nyata. Hal ini tentu menjadi bekal penting, apalagi bagi mahasiswa/i yang tengah mengikuti kompetisi esai nasional. Kehadiran narasumber utama, Bapak Azhari Setiawan, menambah bobot kegiatan ini.
Salah satu poin penting yang disampaikan Bapak Azhari Setiawan dalam sesi materi adalah bahwa sebuah esai ilmiah yang berdampak tidak hanya dinilai dari kerapian tulisannya, tetapi dari bagaimana penulis mampu menyusun gagasan secara terstruktur dan meyakinkan. Beliau menjelaskan dengan lugas bagaimana sebuah esai ilmiah idealnya terdiri dari tiga bagian utama, yaitu pembuka, paragraf isi, dan penutup. Pada bagian pembuka, penulis perlu menghadirkan opening statement yang menarik perhatian pembaca, disertai latar belakang persoalan yang relevan, lalu dirumuskan dalam thesis statement yang jelas dan kuat sebagai inti argumen yang akan dikembangkan. Bagian isi kemudian menjadi ruang untuk menjabarkan gagasan dengan menghadirkan bukti, data, serta analisis yang mendukung argumen, dilengkapi transisi yang mulus agar pembaca tidak kebingungan mengikuti alurnya. Sementara itu, bagian penutup bukan sekadar kata perpisahan, melainkan kesempatan untuk merangkum kembali ide pokok, menegaskan pesan utama, dan mendorong pembaca untuk merefleksikan atau bahkan bertindak sesuai gagasan yang telah disampaikan. Semua bagian tersebut saling terhubung, menjadikan esai bukan hanya sekadar tumpukan kata, tetapi karya tulis yang benar-benar hidup dan mampu meninggalkan kesan mendalam.
Tidak hanya membahas struktur, materi ini juga menyoroti betapa pentingnya seorang penulis esai mampu menganalisis kata kunci dari tema atau soal yang diberikan. Dengan memahami kata kunci, penulis akan lebih mudah memfokuskan ide sehingga argumen yang dibangun tidak melebar ke mana-mana. Teknik pengorganisasian ide seperti membuat outline, mind map, atau menulis poin-poin penting secara terarah menjadi salah satu cara praktis agar gagasan tidak buyar di tengah jalan. Menariknya, Bapak Azhari juga menekankan bahwa sebuah esai seharusnya mampu menjadi pemantik perubahan sosial karena tulisan yang baik tidak hanya berhenti sebagai bacaan, tetapi sanggup menggugah pembacanya untuk berpikir ulang, tergerak hatinya, bahkan terdorong melakukan tindakan nyata di lingkungan sekitarnya. Itulah mengapa setiap mahasiswa diingatkan untuk menulis bukan hanya demi memenuhi tugas akademik, melainkan sebagai wujud tanggung jawab intelektual dan kontribusi sosial yang berdampak.
Lebih jauh, beliau juga memberikan motivasi bahwa esai yang kuat tidak lahir dari proses sekali jadi. Menulis adalah perjalanan panjang yang penuh latihan, perbaikan, dan keterbukaan menerima kritik. Semangat konsisten untuk menulis, terbiasa berdiskusi, dan berani mengeksplorasi isu-isu lokal di sekitar kita menjadi modal penting agar karya yang dihasilkan benar-benar memiliki nilai kebermanfaatan yang nyata. Dari keseluruhan materi tersebut, peserta workshop diajak memahami bahwa kemampuan menulis esai ilmiah pada akhirnya bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga soal kepekaan, kepedulian, serta kesungguhan untuk terus memupuk gagasan yang solutif demi kemajuan bersama.
Beliau tidak hanya menyampaikan teori semata, dengan gaya bicara yang santai namun berbobot, beliau berhasil membangun suasana diskusi yang interaktif dan inspiratif. Banyak peserta mengaku tergerak untuk kembali menulis dan memperbaiki kualitas gagasan mereka setelah mendengar pemaparan beliau. Salah satu poin menarik yang disampaikan oleh narasumber adalah pentingnya mengangkat isu-isu lokal dalam tulisan ilmiah.
Menurutnya, banyak masalah di sekitar kita yang memiliki nilai akademik tinggi namun belum tergarap maksimal karena minimnya kesadaran akan potensi riset lokal dan bahkan sebenarnya sudah ada ide yang ingin tertuang dalam esai tetapi tidak tersampaikan atau terdelivery dengan baik dalam esai. Di sinilah esai berdampak memainkan peran penting. Ia tidak hanya menyusun kata-kata, tetapi juga menjadi medium yang mampu menggerakkan pikiran dan hati pembaca untuk peduli, berpikir ulang, bahkan bertindak. Esai yang baik bukan hanya yang tertulis rapi, tetapi juga yang mampu menyampaikan pesan secara kuat dan membekas.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, workshop ini menjadi ruang refleksi bagi para mahasiswa untuk menyadari bahwa menulis adalah bentuk tanggung jawab intelektual. Gagasan yang dituliskan tidak hanya mencerminkan kemampuan berpikir, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kemajuan sosial. Selain membahas aspek teknis penulisan, kegiatan ini juga membuka ruang bagi peserta untuk bertukar pandangan mengenai tantangan dan peluang dalam menulis esai ilmiah di era digital. Pemateri menekankan pentingnya konsistensi dalam mengasah kemampuan menulis, karena esai yang berdampak lahir dari proses yang terus-menerus, bukan sekadar hasil sekali jadi. Diskusi ini turut memperkuat pemahaman bahwa menulis esai bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga bentuk kontribusi sosial yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dengan adanya pemaparan yang komprehensif tersebut, peserta diharapkan mampu menerapkan strategi dan teknik yang telah dipelajari untuk menghasilkan karya tulis yang lebih terstruktur, berargumentasi kuat, dan relevan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat. Semangat literasi ilmiah yang dibangun melalui workshop ini menjadi pondasi penting bagi mahasiswa untuk terus aktif berkontribusi lewat tulisan, membawa gagasan-gagasan yang konstruktif demi kemajuan negeri. Pentingnya membangun tradisi menulis sejak di bangku kuliah merupakan langkah awal untuk menciptakan generasi yang kritis, solutif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Melalui kegiatan ini, UKM Research and Dedication FISIP UMRAH membuktikan komitmennya dalam mencetak mahasiswa yang tak hanya aktif secara akademik, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial. Diharapkan semangat literasi ilmiah yang terus dipupuk ini tidak berhenti pada satu agenda, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang menyuburkan budaya intelektual tidak hanya di lingkungan kampus namun juga komunitas masyarakat lokal.
Penulis: Ririn Deswita, Mely Nur Ratman, Suci Ramadhanti, Ardita Wahyu , Siti Maisaroh





Comments
Post a Comment