JEJAK EMAS PENYENGAT: EKSPLORASI SEJARAH DAN DEDIKASI

 

UKM REACTION FISIP UMRAH mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau Penyengat

    Pada hari Minggu, 24 Mei 2026, Departemen PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) sukses menyelenggarakan kegiatan "Jejak Emas Penyengat: Eksplorasi Sejarah dan dedikasi". Kegiatan Eksplorasi ini diikuti oleh seluruh pengurus dan anggota UKM REACTION FISIP UMRAH. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui, memahami, serta menumbuhkan rasa cinta kita terhadap sejarah dan nilai-nilai budaya dan warisan Melayu yang berada di Pulau Penyengat.

    Perjalanan menuju Pulau Penyengat diawali dengan berkumpul di titik kumpul yang telah ditetapkan. Dipandu oleh Kak Nurfatilla Afidah sebagai Tour Guide, peserta diajak ke berbagai situs warisan sejarah dan budaya Melayu, diantaranya:

  1. Masjid Raya Sultan Riau
    Masjid Raya Sultan Riau merupakan salah satu dari dua tempat ibadah yang ada di Pulau Penyengat. Masjid yang ikonik dengan warna kuning hijau ini memiliki 13 anak tangga sebagai simbol 13 rukun shalat. Pada zaman dahulu, dinding masjid ini dicat menggunakan campuran kuning atau putih telur sebagi perekat. Di sebelah kanan masjid, terdapat Galeri Kutubkhanah Marhum Al Ahmadi yang merupakan perpustakaan berisi peninggalan warisan dan karya tulis dari zaman Kesultanan Riau-Lingga. Memasuki area masjid, peserta disambut oleh candelier yang merupakan hadiah dari Prusia (Jerman) di masa lampau. Arsitektur tradisi masih dipertahankan, tetapi sebagian sudah direnovasi sedemikian rupa demi keamanan dan kenyaman pengguna.

  2. Gedung Tabib
    Gedung Tabib merupakan rumah Raja Haji Daud atau Engku Haji Daud sebagai tabib di masa itu. Raja Haji Daud menulis sebuah Kitab bernama Asal Ilmu Tabib, dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa manusia terdiri atas 4 unsur, yaitu panas, dingin, kering dan lembap. Apabila terkena penyakit panas maka obatnya adalah sesuatu yang dingin atau apapun yang bersifat berlawanan dengan unsur penyakitnya. Selain itu, Raja Ahmad Tabib juga merupakan salah satu tabib terkenal di Pulau Penyangat setelah Raja Haji Daud. Saat peserta mengunjungi Gedung Tabib, tersisa fondasi batu bata dari bangunan tersebut yang dipagari karena rawan runtuh.


    Sisa fondasi bangunan Gedung Tabib

  3. Kompleks Makam Engku Putri Raja Hamidah
    Kompleks Makam ini terdiri dari Makam Engku Putri Raja Hamidah, Raja Ali Haji dan tokoh kesultanan lainnya. Engku Putri Raja Hamidah sebagai pemilik sah Pulau Penyengat yang merupakan mas kawin pernikahannya dengan Sultan Mahmud Riayat Syah sekaligus penjaga Regalia Kesultanan Melayu. Raja Ali Haji adalah sastrawan dan pujangga Melayu yang telah menciptakan  banyak karya tulis di berbagai bidang, salah satunya ialah Gurindam Dua Belas. Di kompleks makam ini peserta berziarah sekaligus mengirimkan do'a untuk parah tokoh Kesultanan Melayu yang telah berjasa hingga saat ini.


    Komplek Makam Engku Putri Raja Hamidah

  4. Tapak Rusdiyah Club
    Rusdiyah Club merupakan perkumpulan modern pertama berisikan para cendekiawan yang dibangun pada tahun 1892 di Pulau Penyengat. Perkumpulan ini memiliki percetakan yang mencetak berbagai buku dan kitab untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Di Pulau Penyengat mereka memiliki percetakan Mathba'atul Riauyah dan Mathba'atul Ahmadi di Lingga. Saat ini, bangunan asli Rusydiah Club sudah hancur hanya tersedia tapak fondasi bangunannya. 

  5. Rumah Raja Haji Abdullah
    Raja Haji Abdullah adalah dari cucu sastrawan Melayu Raja Ali Haji yang memiliki jabatan sebagai hakim. Selain itu, Raja Haji Abdullah dan istrinya juga menulis kitab Kamasutra Melayu yang berkaitan dengan hubungan intim suami istri dengan cara atau tradisi Melayu. Kitab Cempaka Putih ditulis oleh Raja Haji Abdullah menggunakan sudut pandang suami dan Kumpulan Gunawan ditulis oleh istrinya menggunakan sudut pandang istri. Ketika sampai disana, peserta dapat melihat sisa bangunan dari Rumah Raja Ali Haji yang dulunya difungsikan sebagai Gedung Hakim. 

    Papan Informasi Raja Haji Abdullah

  6. Balai Adat Melayu Pulau Penyengat 
    Balai Adat Melayu merupakan salah satu tempat selalu dikunjungi ketika ke Penyengat. Di Balai Adat ini dapat ditemukan pelaminan pernikahan adat Melayu, Gurindam Dua Belas yang terpajang di dinding, replika Perjuangan Raja Haji Fisabilillah melawan Belanda, baju adat Melayu yang bisa disewa dan masih banyak lagi. Ketika sampai disana, peserta diarahkan untuk beristirahat makan siang sekaligus menyaksikan keindahan budaya Melayu yang disajikan. Selesai waktu istirahat, kami mendokumentasikan kegiatan kami di Balai Adat melalui foto dan konten video. 

    Melalui kegiatan “Jejak Emas Penyengat: Eksplorasi Sejarah dan Dedikasi”, diharapkan buat peserta dapat lebih mengenal sejarah yang ada di pulau penyengat sebagai pusat kebudayaan dan peradaban melayu, kegiatan ini tak hanya memberikan wawasan baru mengenai sejarah dan budaya, tapi juga menumbuhkan rasa bangga, cinta dan peduli terhadap warisan budaya melayu agar tetap dikenal oleh generasi mendatang. Selain itu, seluruh peserta diberikan tugas dalam bentuk opini pandangan pribadi mereka terhadap kunjungan ke Pulau Penyengat. Tugas ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap nilai sejarah, budaya dan warisan melayu yang telah dipelajari selama kegiatan berlangsung.

    Secara keseluruhan, kegiatan eksplorasi budaya yang diinisiasi oleh Departemen PSDM ini berjalan dengan sukses dan lancar. Dengan berakhirnya kunjungan ke enam situs bersejarah tersebut, UKM REACTION FISIP UMRAH berkomitmen untuk terus menjadi agen perubahan yang tidak melupakan akar budayanya. Warisan emas Pulau Penyengat kini telah berpindah ke dalam benak dan hati para peserta, siap untuk terus disuarakan kepada generasi-generasi selanjutnya.


Penulis: Facita Siti Mahfuzizia_LITBANG, Geby Aulia Ritonga_PSDM dan Marsel Oktavianus Sinurat_ANGGOTA

Comments